Pages

Makna Tauhid

Posted by Abu Mumtazah Minggu, 01 November 2020 0 komentar
Makna Tauhid

Perintah Terbesar seorang hamba dari Rabb nya adalah Perintah TAUHID, mentauhidkan Allah ta'ala
Lalu apa itu makna TAUHID ?
Sebagainana yang di sampaikan oleh Syaikh al Utsaimin rahimahullah ketika mendefinisikan makna Tauhid secara umum dalam Penjelasan Kitab Tiga Landasan Utama
Beliau mengatakan bahwa makna Tauhid adalah mengesakan Allah dengan apa yang menjadi kekhususan diri-Nya

Tiga Kekhususan Allah

Dan kekhususan Allah itu ada dalam tiga hal ;
Pertama, kekhususan dalam Rububiyah Nya, yaitu bahwasannya Dialah satu satunya yang menciptakan, memberikan rizki, menghidupkan dan mematikan, mengatur alam semesta dan selainnya dari perbuatan Allah ta'ala
Kedua, kekhususan dalam Uluhiyyah Nya, yaitu bahwasannya hanya Allah sajalah yang berhak untuk di Ibadahi, berkaitan dengan perbuatan hamba
Ketiga, kakhususan dalam Al Asma Wa Sifat Nya, yaitu hanya Allah sajalah yang memiliki Nama nama yang husna dan sifat sifat yang mulia
Siapa yang mentauhidkan Allah, maka ia harus mengesakan, menjadikan hanya untuk Allah sajalah tiga kekhususan Allah diatas, tidak di palingkan kepada selain Allah
Semoga bermanfaat
Barakallahu fikum

Baca Selengkapnya ....

Benarkah Covid 19 Tidak Berbahaya

Posted by Abu Mumtazah Rabu, 30 September 2020 0 komentar

 

Covid 19 Tidak Bahaya


Benarkah Covid 19 Tidak berbahaya mengingat tingkat kematiannya yang rendah ? 

Ada dua sisi yang harus kita lihat untuk melihat apakah benar covid 19 yang sudah menjadi pandemi ini tidak berbahaya. 

Pertama

Jika kita melihat kondisi orang yang terinfeksi virus SARS COV2 penyebab Covid19 ini, kita dapati ada yang kondisinya baik - baik saja tidak sakit (OTG), ada yang sakit tapi ringan, ada yang sakit sedang, dan ada yang sakit berat bahkan yang sampai meninggal pun Tidak Sedikit. 

Risiko kematian tertinggi ada pada kelompok usia 60 tahun keatas dengan tingkat kematian 14,63% yang di susul kelompok risiko di bawahnya yaitu kelompok usia 46 - 59 tahun dengan tingkat kematian 6,33%. (Sumber : Data KawalCovid19.Id per 21 September)

Artinya orang dengan kelompok usia tersebut memiliki risiko kematian yang Tinggi. Ditambah lagi jika mereka ini memiliki penyakit bawaan / komorbiditas, tingkat kefatalannya akan betambah. Dan hal ini dapat menimpa siapa saja termasuk orang - orang terdekat anda. 

Mungkin saja ketika anda terinfeksi virus Sars Cov2 ini tidak bergejala (OTG). Namun dengan kondisi ini anda sangat amat berpotensi menularkan virus yang ada di dalam diri anda kepada orang di sekitar anda. 

Mungkin orang tua anda atau orang - orang terdekat anda yang memiliki risiko tinggi. Baik dari kalangan usia lanjut maupun orang - orang yang memiliki penyakit bawaan seperti jantung, hypertensi, diabetes atau lainnya. 

Ketika mereka tertular virus dari anda, maka sangat amat besar kemungkinan mereka tidak sekuat anda, bahkan peluang sakit berat sampai kematianpun jauh lebih besar.

Maka tidak benar jika di katakan Covid19 ini tidak berbahaya, mengingat penyebaran dan penularan virus ini sangat mudah dan cepat.  Semua bisa saja terjangkiti, karena virus tidak pandang agama, usia apalagi jabatan.

Kedua

Sampai saat ini data meninggal dunia terkonfirmasi Covid19 di Indonesia sudah mencapai angka 10.601 (Data 29 September 2020). Ini bukan uang rupiah ya, yang terlihat nilainya tidak begitu besar !

Mari bandingkan, dengan kasus DBD di Indonesia di tahun sebelumnya yaitu tahun 2019 yang jumlah kasusnya sebanyak 112.954 dengan kasus meninggal sebanyak 751 orang. (Sumber : kemkes.go.id)

Perhatikan angka kematian dua kasus diatas. Betapa terpaut jauh antara jumlah kematian sebab DBD dengan Covid19. 

Padahal angka kematian DBD di atas adalah angka yang didapat berdasarkan akumulasi kasus selama satu tahun yaitu tahun 2019. 

Sementara angka kasus Covid19 itu terkonfirmasi pertama di bulan Maret 2020, dan di bulan September angka kematiannya sudah mencapai 10.601 orang. 

Artinya untuk mencapai angka tersebut hanya butuh waktu 7 bulan saja. Dan kecepatan penularan Covid19 sampai hari ini masih terus meningkat cepat. 

Masih mau beranggapan Covid19 gak berbahaya karena melihat prosentase tingkat kematian yang “terlihat” rendah ? 

Tentu tidak !!!

Apalagi beranggapan kalau covid19 itu cuma bohong-bohongan aja, karena gak melihat orang sakit yang terinfeksi covid19 di sekitarnya ? 

Apakah harus menyesal dulu ketika covid19 telah menginfeksi anda atau orang terdekat anda sehingga anda baru percaya dan Wasapada ? 

Jangan, jangan … Cukup yang sudah lewat itu biarlah berlau. Kini kita wasapada, karena virus masih ada di sekitar kita. 

Waspada, terapkan protokol kesehatan pencegahan covid19 dalam keseharian. 

Jangan / kurangi keluar rumah untuk urusan yang tidak penting / kurang penting, atau tidak prioritas / tidak darurat. 

Semoga Allah melindungi kita semua dari wabah ini, dan segera mengangkat wabah virus Sars cov2 ini dari kita semua. Aamiiiin. 

Penulis : Alumni FKM


Baca Selengkapnya ....

3 Kunci Kebahagiaan

Posted by Abu Mumtazah Sabtu, 25 Januari 2020 0 komentar
3 Kunci Kebahagiaan
3 Kunci Kebahagiaan
Jika di tanya, siapa yang tidak ingin bahagia ? Mungkin tidak akan ada yang menjawab saya tidak mau bahagia. Bahkan semua orang ingin merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Oleh karena nya kita lihat berbagai macam cara di tempuh orang untuk mendapatkan kebahagiaan versi mereka. 

Ada yang mencari kebahagiaan dengan cara sibuk bekerja, berbisnis agar dapat mengumpulkan dunia sebanyak - banyaknya. Harapannya ia dan keluarganya akan merasakan kebahagiaan ketika memiliki banyak harta. 

Namun nyatanya, seberapapun banyaknya harta tidak lantas membuat kita bahagia. Karena karakter manusia itu tidak pernah merasa puas. Ketika seorang di berikan satu lembah emas, maka niscaya orang tersebut akan terus mencari lembah emas berikutnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka kita pastikan kebahagiaan bukan terletak pada banyaknya harta dan kekayaan dunia.

Ada juga sebagian orang yang mencari kebahagiaan dengan mendatangi diskotik, tempat - tempat hiburan yang di haramkan. Mereka mendengarkan dan menikmati musik lengkap dengan sajian para wanita yang berlenggak lenggok di hadapannya. Hingga satu perbuatan haram pun akan mengantarkannya kepada perbuatan haram selanjutnya. Perbuatan zina pun terjadi. Wal iyyadzubillah.

Pertanyaannya, apakah dengan cara seperti ini seseorang mendapatkan kebahagiaan hakiki ? Tentu jawabnya tidak. Justru mereka yang melakukannya akan mendapatkan penyesalan demi penyesalan. Yang berbuah pada keresahan di dalam hati, gundah gulana yang bekepanjangan, jauh dari ketenangan hati.

Maka kita juga pastikan hal yang seperti ini bukan cara yang benar untuk kita mencari kebahagiaan.

Lalu dimana letak kebahagiaan itu ? Dan bagaimana cara kita mendapatkan kebahagiaan ?

Di dalam kitab Al Qowaidul Arba di halaman awal - awal di jelaskan bahwasannya kunci untuk kita mendapatkan kebahagiaan itu ada 3. Apa saja 3 kunci kebahagiaan tersebut ?

3 kunci kebahagiaan menurut penulis yaitu ketika seseorang mendapatkan kenikmatan maka ia bersyukur, ketika mendapat musibah, ujian dari Allah maka ia bersabar, dan ketika ia terjatuh dalam dosa dan maksiat maka ia beristighfar.

Dan dalam kehidupan kita di dunia ini tidak pernah telapas kecuali pada tiga keadaan ini. Kadang kita mendapatkan nikmat dari Allah, kadang juga kita mendapatkan musibah dan ujian. Dan mungkin juga kita sering berbuat kesalahan dan dosa. Karena memang manusia itu adalah tempatnya salah. Tidak ada yang terlepas dari kesalahan, tidak ada yang maksum diantara kita.

Maka kebahagiaan itu ada pada sikap kita dalam menghadapi hidup. Yaitu syukur ketika di beri, sabar ketika di ujia dan istighfar ketika terjatuh dalam dosa.

Dan ini tidak di dapatkan kecuali oleh orang - orang yang mau kembali kepada Allah. Mau mempelajari agama Allah.

Karena dengan pemahaman agama yang baik, pengetahuan yang baik, keimanan yang baik, maka kita lebih mampu untuk bersabar di kala musibah melanda. Kita jauh dari perbuatan mencela, menggerutu ketika ujian datang, karena kita tau betapa besar pahala yang ada di belakang kesabaran kita tersebut. Dan ini tidak di dapatkan kecuali oleh orang yang memperhatikan dan mempelajari agamanya.

Begitu juga ketika seseorang jauh dari Agama Allah, jauh dari ilmu, ketika ia mendapatkan banyak nikmat dari Allah berupa harta atau yang semisal dengannya. Maka mereka tertipu dalam memanfaatkannya. Mereka manfaatkan nikmat tersebut di jalan yang haram. Sehingga mereka pun jauh dari rasa syukur. Dan selalu merasa kurang. Karena selalu melihat orang lain lebih dari nya.

Maka bahagian bukan berada pada banyaknya harta. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidaklah rasa cukup yang di rasakan setiap hamba itu kecuali ia akan melahirkan rasa syukur terhadap nikmat. Sehingga ia pun akan memanfaatkan nikmat yang di berikan Allah pada hal - hal yang di rihdoinya. Maka ini adalah diantara kunci kebahagiaan yang hendaknya kita mencarinya dengan sungguh - sungguh agar ia singgah dan menetap di hati kita.

Dan tidaklah seorang hamba dalam hari - hari kehidupan dunianya, kadang terjatuh dalam berbagai macam kesalahan dan dosa. Dan sebaik - baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah ta'ala. Hal ini sebagaimana yang di sabdakan oleh rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam


كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”.(HR Tirmidzi)

Maka mari kita cari kebahagiaan ini dari tiga hal tersebut. Yaitu ketika hidup kita berada pada nikmat yang berkecukupan maka kita perbanyak syukur dan memanfaatkan nikmat tersebut dalam ketaatan kepada Allah ta'ala. Dan ketika kita sedang di landa musibah, maka kita perbanyak bersabar dan selalu melihat kebawah bahwasannya betapa banyak orang yang lebih sulit di banding kita sehingga hatipun menjadi lebih lapang menerika setiap takdir dan ketentuan Allah ta'ala. Juga ketika kita terjatuh dalam dosa hendaknya kita segera beristighfar dan bertaubat kepada Allah ta'ala.

Semoga Allah ta'ala memberika kebahagiaan yang hakiki kepada kita semua. Aamiiin.

Di susun oleh Abu Mumtazah

Baca Selengkapnya ....

Catatan Seputar Bencana Yang Melanda

Posted by Abu Mumtazah Kamis, 16 Januari 2020 0 komentar
Catatan Seputar Bencana Yang Melanda
Catatan Seputar Bencana Yang Melanda
Belakangan ini kita dapai berbagai macam musibah melanda di negeri kita. Dari musibah gempa bumi, musibah tsunami, sampai yang sekarang masih terjadi musibah banjir. 

Banyak harta hilang, nyawa melayang, dan kesedihan pun menjadi pemandangan umum di sekitar lokasi bencana. 

Anak - anak menangis, orang tua meneteskan air mata, sebab musibah yang seketika mencabut kenikmatan dunia mereka. 

Inilah kenyataan dalam kehidupan dunia ini, kadang seseorang merasakan kesenangan, kebahagiaan, dan kadang juga seseorang menghadapi musibah, ujian, bencana berupa kesedihan, tangis dan sengsara. 

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, 

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

"Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)" (QS. Ali Imron : 140)

Musibah yang terjadi yang kita saksikan saat ini sudah merupakan sunatullah, ketetapan Allah terhadap makhluknya. Tidak ada yang bisa menghindar barang satu hasta sekalipun, ketika Allah telah menghendaki sesuatu baik dari kesenangan maupun kesedihan.

Dan diantara rukun iman yang enam, yaitu seorang muslim beriman terhadap takdir baik dan buruk dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Perbuatan Allah ta'ala dalam menakdirkan sesuatu kepada makhluknya adalah semuanya baik. Dan dari sisi makhluknya maka terkadang takdir itu baik dan terkadang buruk di sisi makhluk. 

Maka musibah yang melanda saudara kita saat ini adalah sebuah takdir yang mungkin terasa buruk jika di rasakan dari sisi makhluk. Namun perbuatan Allah yang menakdirkan hal tersebut adalah semuanya kebaikan. 

Karena kadang kita tidak mengetahui, apa hikmah dari berbagai macam bencana yang melanda di sekitar kita. 

Berkaitan dengan hal ini, maka ada beberapa hal yang menjadi catatan kami berkaitan dengan bencana yang melanda di sekitar ini. Yang ini merupakan salah satu bentuk kita mengambil pelajaran dari berbagai macam musibah yang menimpa. 

Sehingga harapan kita dengan kita mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa ini, akan membuat kita lebih peka lagi dalam hal memperbaiki diri untuk meraih kebahagiaan kehidupan masa depan kita kelak di akhirat. 

Mengambil Pelajaran Dari Terjadinya Bencana Di Sekitar Kita 

Diantara pelajaran yang dapat kita ambil dari berbagai macam bencana yang melanda di negeri kita belakangan ini yaitu,


  • Bahwasannya Semua Musibah Datangnya Dari Allah 
Dengan musibah yang terjadi ini kita bisa mengambil pelajaran bahwasannya semua musibah yang terjadi datangnya dari Allah. Tidak ada kuasa dan kekutan makhluk untuk menahan apa yang Allah kehendaki. Semua yang Allah kehendaki terjadi maka ia akan terjadi. Dan apa - apa yang Allah kehendaki tidak terjadi, maka tidak akan terjadi.

Sekalipun pawang hujan, dukun atau pawang - pawang lainnya berkumpul jadi satu menghimpun kekuatan untuk menolak bencana. Maka tidak bermanfaat sedikitpun kekuatan mereka. 
  • Menunjukkan Kekuasaan Allah Ta'ala 
Dengan adanya bencana yang menimpa ini, menunjukkan kepada kita semua bahwasannya kekuasaan Allah tidak terbatas. Allah berkuasa atas apapun yang ada di alam semesta ini beserta isinya. Tidak ada satupun kecuali tunduk terhadap kekuasaan Allah. 

Tidak adalah satu jengkalpun tanah di muka bumi ini kecuali Allah bekuasa terhadapnya. Tidak ada satu centimeterpun apapun yang ada di dunia ini, kecuali semua adalah milik Allah dan semuanya tunduk di bawah kekuasaan Allah. 
  • Menunjukkan Kita Semua Adalah HAMBA Yang LEMAH
Adanya musibah ini juga menunjukkan kepada kita semua bahwasannya kita adalah seorang hamba. Yaitu hamba yang selalu tunduk dan patuh atas takdir Allah. Mau atau tidak mau, kita tunduk terhadap kehendak Allah. Tidak ada sedikitpun kekuatan hamba yang bisa melawan kehendak Allah.

Maka dari itu, sungguh tidak layak bagi kita untuk bersombong ria. Bahkan untuk menghindar dari bencanapun seorang hamba tunduk kepada ketetapan Allah. 

Betapa nampak kelemahan kita ketika bencana melanda. Jangankan untuk memepertahankan harta benda kita. Bahkan untuk menyemalatkan diri dari nya saja semua Allah yang menentukan. 

Hal ini karena kehendak manusia adalah di bawah kehendak Allah. Ketika manusia memiki kehendak ini, namun Allah berkehendak lain, maka manusia tunduk kepada kehendak dan ketetapan Allah. Tidak ada yang bisa lari dari takdir Allah, walaupun hanya sejengkal. 
  • Memperkuat Keimanan Terhadap Takdir Yang Membuahkan Lapang Dada
Dari bencana yang menimpa ini kita juga bisa mengambil pelajaran darinya untuk mempertebal keimanan kita terhadap takdir Allah. Apa saja yang telah di takdirkan Allah terhadap hamba-Nya maka tidak akan meleset. Dan apa saja yang tidak di takdirkan terjadi pada hamba-Nya maka tidak akan terjadi. 

Sehingga ketika kita meyakini semua yang terjadi ini adalah atas takdir yang telah Allah tetapkan sebelumnya yang tidak akan ada seorang hambapun bisa teluput atas ketetapan-Nya. Ini akan membuat dada lebih lapang menerima ketantuan Allah. Hidup akan terasa lebih ringan dan mudah. Dan kita tidak mengkhawatirkan rizki dan kehidupan kita kedepannya. karena selama kita masih menghirup nafas, maka selama itu pula Allah jamin rizki kita dengan kita tetap berusaha dan tawakkal kepada-Nya. 
  • Kenikmatan Dunia Itu Hanya Sementara dan Mudah Sirna
Kita juga dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga dari berbagai macam bencana yang melanda ini. 

Yaitu bahwasannya kenikmatan dunia, harta dunia itu adalah kenikmatan yang semu dan fana. Seseorang yang bersulit sulit mendapatkannya, ketika terjadi bencana, maka hilang sudah semua tanpa bekas.

Maka hal ini menunjukkan betapa beharganya amalan sholeh. Yang ia tidak akan sirna bahkan terus bermanfaat walaupun pemiliknya telah meninggal dunia. Ia akan kekal menemani kita kelak sampai di akhirat sana. 

Berbeda dengan harta yang sulit di dapat dan hilang begitu cepat. Sementara amalan sholeh lebih mudah di kerjakan dan bermanfaat selama - lama nya. 

Maka mari kita lebih mengutamakan harta yang akan menemani kita sampaipun kita telah tiada. Harta itu adalah amalan sholeh yang di kerjakan diatas tauhid sesuai petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan ikhlas karena Allah ta'ala. 
  • Kita Tidak Akan Hidup Selamanya Di Dunia 
Kita juga melihat dari bencana yang menimpa, tidak mengenal usia, tua, muda bahkan anak - anak dan bayi pun meregang nyawa. Karena memang mati itu tidak mengenal usia. Mati tidak menunggu tua. Kapanpun kematian itu dapat menemui kita. 

Betapa banyak orang yang berencana, namun sebab bencana semua hanya sekedar rencana. Karena kehidupan di dunia harus di tinggalkan mengikuti ketentuan Allah. 

Dari bencana ini kita melihat bahwasannya kita hidup di dunia ini tidak selamanya. Ada waktunya kita kelak akan meninggalkannya. Maka mari persiapkan bekal untuk kita meninggalkan dunia yang sementara ini. Guna menyongsong kehidupan yang lebih kekal dan abadi selamanya di akhirat. 
  • Musibah Mengingatkan Kita Terhadap Dahsyatnya Hari Kiamat 
Dengan kedahsyatan musibah yang melanda entah tsunami, gempa banjir atau yang lainnya. Harusnya mengingatkan kita semua akan dahsyatnya hari kiamat kelak. 

Sehingga hal ini memberikan tambahan rasa takut kita kepada Allah sang pencipta. Bencana yang begitu dahsyat ini belum apa apa nya jika di bandingkan dengan hari kimat. Dimana bumi di gincangkan, di hancurkan, gunung beterbangan. Tidak ada lagi yang tersisa, kecuali kita dan amalan kita. 

Maka hendaknya rasa takut ini membuat kita lebih semangat lagi untuk terus beramal sholeh untuk meraih kehidupan yang bahagia kelak di Surga. 
  • Musibah Dapat Menjadi Sarana Memperkuat Ukhuwah Islamiyyah 
Dengan adanya musibah ini juga memberikan pelajaran kepada kita bahwasannya kita manusia butuh kepada orang lain. Butuh kepada bantuan orang lain. Dan ini adalah sebuah sarana untuk kita dapat memperkuat ukhuwah islamiyyah diantara kita. Tanpa memandang tahta, jabatan, ras ataupun suku. Semua kita sama, yang membedakan adalah tingkat taqwa kita. 

Sehingga kitapun saling bahu membahu menolong saudara kita. Karena seorang muslim dengan muslim yang lainnya bagai satu jasad. Ketika sakit satu bagian, maka bagian lainnya pun akan merasakannya. 

Akhir kata, semoga Allah memberikan kebaikan kepada kita semua atas musibah yang melanda. Allah berikan kesabaran, dan semoga Allah berikan kekuatan untuk kita terus melangkah dalam meniti kehidupan yang lebih baik kedepannya. Innahu Waliyu Dzalika Wal Qadiru 'alaihi (Dia-lah Allah yang memiliki segala apa yang di minta dan Dia lah yang maha mampu untuk hal tersebut.)

Admin Catatan AMW

Baca Selengkapnya ....
support - Original design by Bamz | Copyright of Catatan AMW.